Archive for the ‘Santapan Nurani’ Category

Syaaban masa perbaiki diri bagi menghadapi Ramadhan

DARIPADA Aisyah, katanya: Rasulullah SAW sering berpuasa sehingga kami mengira bahawa Baginda akan berpuasa seterusnya. Dan Baginda sering berbuka sehingga kami mengira beliau akan berbuka terus. Dan aku tidak pernah melihat Baginda berpuasa terus sebulan penuh kecuali pada Ramadan. Dan aku juga tidak pernah melihat Baginda berpuasa sunat dalam sebulan yang lebih banyak daripada puasanya pada Syaaban.(Hadis riwayat al-Bukhari)
Syaaban ertinya berpecah atau bercerai-berai. Ia dinamakan demikian kerana orang Arab pada bulan itu akan berhijrah ke tempat lain untuk mencari air sehingga ke gua – gua. Ada mengatakan, Sya’aban tanda pemisah yang memisahkan Rejab dan Ramadhan.
Dapat disimpulkan, pengertian Sya’aban adalah masa untuk manusia berebut – rebut mengejar kebajikan sebanyak mungkin sebagai latihan dan persediaan memasuki Ramadan.
Sebahagian ahli hikmah menyatakan, sesungguhnya Rejab adalah kesempatan untuk meminta ampun daripada segala dosa, Sya’aban pula adalah kesempatan untuk memperbaiki diri daripada segala macam celaan dan Ramadhan adalah masa untuk menerangkan hati dan membersihkan jiwa.
Antara amalan digalakkan pada Sya’aban adalah memperbanyakkan puasa sunat. Kitab Durratun Nasihin ada menyebut Rasulullah S.A.W bersabda yang maksudnya: Sesiapa yang berpuasa tiga hari pada permulaan Syaaban dan tiga hari pada pertengahan Syaaban dan tiga hari pada akhir Syaaban, maka Allah mencatat untuknya pahala seperti pahala 70 nabi dan seperti orang yang beribadat kepada Allah selama 70 tahun dan apabila dia mati pada tahun itu maka dia seperti orang yang mati syahid.
Memperbanyak doa, zikir dan membaca selawat kepada Rasulullah. Sabda Rasulullah S.A.W: Sesiapa yang mengagungkan Sya’aban, bertakwa kepada Allah, taat kepada-Nya serta menahan diri daripada perbuatan maksiat, maka Allah mengampuni semua dosanya dan menyelamatkannya dalam tahun itu daripada segala macam bencana dan penyakit. (Dipetik daripada kitab Zubdatul Waizhin)
Bertaubat dan meraikan malam 15 Sya’aban atau lebih dikenali sebagai malam Nisfu Sya’aban di mana sunat ia dihidupkan dengan membaca zikir dan al-Quran kerana malam itu adalah malam yang amat mustajab dan penuh dengan rahmat.

Iyyaka Na’budu (Hanya Kepada-Mu Kami Menyembah) : Kisah ini diceritakan oleh Syaikh Akbar Ibnu Arabi .

Kisah ini diceritakan oleh Syaikh Akbar Ibnu Arabi dalam kitabnya Al Futuhat Al Makkiyah. Berikut petikannya:

Seorang guru bercerita bahwa ia memiliki seorang murid kecil yang terbiasa membaca Al Quran kepadanya. Suatu hari, ia melihat wajah muridnya sayu. Ia pun bertanya tentang kondisi murid itu kepada teman-temannya. Ada yang menjawab bahwa anak itu telah shalat malam dengan mengkhatamkan seluruh Al Quran.

Ia lalu bertanya kepadanya, “Wahai anakku, saya diberitahu bahwa kamu semalam mengkhatamkan seluruh Al Quran dalam shalatmu.”

“Benar, guru.” jawab murid itu.

“Wahai anakku, nanti malam, bayangkanlah wajahku di depanmu sewaktu kamu shalat lalu bacalah Al Quran di hadapanku dan jangan kamu lalai.”

“Ya, guru.”

Ketika pagi hari, ia bertanya, “Apakah kamu sudah melakukan apa yang aku pesankan?”

“Sudah, guru.”

“Apakah kamu mengkhatamkan Al Quran?”

“Tidak, aku tak mampu menyelesaikan lebih dari separo Al Quran.”

“Wahai anakku, itu cukup baik. Nanti malam, hadirkanlah bayangan wajah salah seorang sahabat Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang telah mendengarkan Al Quran langsung dari Rasulullah, lalu bacalah di depannya dan hati-hati jangan sampai salah.”

“Insyaallah, guru. Saya akan lakukan.” jawab sang murid.

Keesokan harinya, ia bertanya lagi, “Apakah kamu sudah melakukan apa yang aku pesankan?”

Murid itu menjawab, “Saya tak mampu membaca lebih dari seperempat Al Quran.”

“Baiklah, nanti malam kamu bayangkan wajah Rasulullah yang telah menerima wahyu Al Quran itu dan sadarlah di depan siapa kamu sedang membaca.”

“Baik, guru.”

Keesokan harinya, ketika guru bertanya, murid itu menjawab,

“Aku tak mampu membaca lebih dari satu juz saja atau sekitar itu.”

“Wahai anakku, nanti malam kamu bayangkan wajah Jibril yang telah mendiktekan Al Quran kepada Rasulullah, bacalah di depannya dan sadarlah di depan siapa kamu sedang membaca.”

“Baik, guru.”

Keesokan harinya, ketika ia bertanya, murid itu menjawab,

“Saya tidak mampu membaca lebih dari beberapa ayat saja.” sambil menyebutkan ayat-ayat Al Quran yang ia baca.

“Wahai anakku, malam nanti bertaubatlah kepada Allah dan menunduklah. Ketahuilah bahwa orang yang sedang shalat itu adalah orang yang sedang berduaan dengan tuhannya. Renungkanlah apa yang kamu baca. Yang terpenting bukanlah memperbanyak bacaan, tapi tadabbur (menghayati) ayat-ayat yang kamu baca. Maka, jangan sampai kamu lalai.”

Keesokan harinya, sang guru tidak menemui murid itu. Ada yang mengatakan bahwa ia sedang sakit. Lalu ia menjenguknya.

Ketika melihat wajah gurunya, murid itu menangis sambil berkata,

“Wahai guru, semoga Allah membalas anda dengan kebaikan. Aku belum pernah menyadari bahwa aku telah berbohong kecuali semalam tadi. Semalam aku telah membayangkan wajah Allah dalam shalatku, lalu aku pun merasa berat ketika membaca Al Quran di depan-Nya, aku tidak bisa menyelesaikan surat Al Fatihah kecuali hanya sampai Maliki Yaumiddin saja. Ketika aku hendak membaca Iyyaka na’budu, aku malu. Aku merasa telah berdusta di hadapan Allah. Aku mengaku hanya menyembah-Nya saja, tapi kenyataannya aku masih lalai dalam menyembah-Nya. Aku tidak bisa ruku’ sampai terbit fajar. Aku takut menghadap Allah dalam keadaan yang tidak aku sukai ini.”

Tiga hari kemudian, murid tersebut meninggal dunia. Ketika dimakamkan, sang ustadz mengunjungi kuburannya lalu bertanya tentang keadaannya di sana. Tiba-tiba ia mendengar suara pemuda itu dari bawah kuburan, “Wahai Ustadz, saya hidup di sisi Sang Maha Hidup. Dia tidak menghisabku sedikit pun.”

Kemudian ustadz itu pulang ke rumahnya dalam keadaan sakit, ia terbaring di atas ranjang akibat melihat kejadian itu. Tak lama kemudian, ia pun meninggal dunia menyusul pemuda tersebut.

Syaikh Ibnu Arabi berkata, “Barangsiapa membaca iyyaka na’budu seperti bacaan pemuda itu, ia telah benar-benar membacanya.”

(Sumber: Al Futuhan Al Makkiyah: Safar 6 hal. 297 cet. Sorbon; 2/6-7 Maktabah Syamilah)

Saudaraku, sudah berapa kali kita shalat? Pernahkah kita merasakan apa yang dirasakan oleh pemuda tadi? Sungguh, seandainya setiap orang yang shalat menghayati ayat-ayat yang sedang ia baca, niscaya shalat itu akan menjadi energi luar biasa yang akan merubah dirinya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang shalat sedang berduaan dengan Tuhannya.”

Wallahu a’lam bis showab

Sumber disini http://myquran.com/forum/archive/index.php/t-24211.html?s=23948b743a03be19721649d4051e62a7

Bersabarlah Duhai Hati

Kehidupan ini adalah permainan dalam pelbagai adegan yang mencabar dan penuh dugaan serta ujian Allah. Sesungguhnya segala dugaan bertujuan menguji kesabaran dan tahap keimanan seseorang hamba.

Apabila terujinya seseorang hamba, maka segala mehnah dari-Nya itu adalah sebagai penghapus dosa yang menggantikan hukuman di akhirat kelak.

Kadangkala apabila diuji, kita merasa cukup kuat dan kental jiwa untuk menempuh segala dugaan yang mendatang, namun ada masanya pula kita cukup lemah dan merasa hampir rebah dalam perjuangan meniti kehidupan.

Ada kalanya kita berupaya melepasi ujian itu, namun ada kalanya juga kita merasakan tidak berupaya menghadapinya lantas merungut dengan apa yang berlaku.

Sesungguhnya tidak kita nafikan, ada ketika kita tidak mampu mengelak daripada menghadapi tekanan dalam menjalani kehidupan. Pelbagai tekanan dihadapi menyebabkan kita hilang semangat dalam menempuh cabaran dan dugaan yang datang silih berganti atau secara bertimpa-timpa.

Lihatlah betapa lemah dan kerdilnya kita, begitu cepat hilang pergantungan sedangkan Allah SWT sedang menduga.

Ujian yang dihadapi oleh manusia di dunia ini adalah dalam dua bentuk iaitu sama ada kesusahan atau kesenangan. Kedua-dua ujian itu benar-benar menguji kita sebagai hambanya.

Ingatlah bahawa kehidupan di dunia yang meliputi kemewahan dengan segala pangkat kebesaran dan kesenangan itu adalah sekadar ujian. Sesungguhnya hanya bagi mereka yang terpedaya yang akan hanyut dengan ujian ini.

Sedangkan dugaan kesusahan dan kesengsaraan di dunia pula, kadangkala membuatkan kita rasa lemah dan putus asa. Kadangkala kita seringkali mengeluh dengan apa yang ditetapkan untuk kita, dan seringkali jua kita persoalkan itu dan ini tentang takdir yang telah tertulis oleh-Nya. Apakah dengan penerimaan sebegini kita fikir kita cukup redha dengan ketentuan-Nya? Kadangkala pula kita seringkali merumuskan itu dan ini tentang ketetapan-Nya.

‘Jikalau dugaan ini tiada, sudah tentu aku begini…’
‘Jikalau ini tidak terjadi sudah tentu aku begitu…. ‘

Apakah kita fikir kita lebih tahu dari Dia yang menciptakan kita? Dan apakah kita fikir kita sebenarnya lebih tahu apa yang terbaik untuk kita?

Subhanallah. Maha suci Allah!

Sudah tentu kita hamba yang kerdil ini tidak tahu apa-apa berbanding Dia yang Maha Sempurna. Namun tanpa kita sedari segala persoalan yang timbul dibenak kita sebenarnya telahpun terjawab dalam Kalam Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan sesuatu, maka Dia juga Maha Mengetahui persoalan yang bakal timbul di fikiran hambaNya. Maka Dia lebih dahulu menjawab persoalan itu dalam ayat-ayat-Nya.

Inilah jawapan Allah tehadap persoalan yang kadangkala timbul dalam hidup kita.

Kenapa semua ini terjadi padaku?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah : 216)

Kenapa terlalu berat ujian ini?

“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan Kesanggupannya.” (Al-Baqarah : 286)

Terasa kehidupan ini sudah tiada maknanya lagi bagiku. Mengapa?

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imraan : 139)

“… ..dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf : 87)

Bagaimana harus ku hadapi semua ini?

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk.” (Al-Baqarah : 45)

Apa yang akan kudapat daripada semua ini?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka..” (At-Taubah : 111)

Kepada siapa harus aku berharap?

“Cukuplah ! Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal.” (At-Taubah : 129)

Berimankah aku?

“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta?” (Al-Ankabut : 2-3)

Renungi dan redhalah terhadap ketentuan Allah SWT. Pasti tersingkap hikmah yang tersembunyi di sebalik setiap ujian-Nya. Bersabarlah duhai hati. Moga kita menjadi hamba yang redha dan diredhai-Nya.

– Artikel iluvislam.com

Kembali Kepada ALLAH

Bagaimana penyakit jiwa boleh berlaku??

 

Manusia rasa dia ada kuasa. Dia rasa dia kuat dan boleh buat apa sahaja. Bila ada cabaran dan tekanan hidup, rupanya dia tidak ada kuasa. Dia rasa tertekan. Bagaimana hendak menangkisnya? Bila tidak dapat ditangkis, maka jiwanya derita, dia rasa tension dan mengalami stress.

 

Oleh kerana manusia tidak ada kuasa untuk mengatasi cabaran dan kesusahan, maka fitrahnya ingin agar ada orang yang membela dan menyelamatkan dia. Bila ada masalah, dia ingin agar ada orang yang menolong. Tetapi siapakah yang boleh menolong? Adakah manusia, sedangkan semua manusia mempunyai masalah yang sama. Apakah haiwan, atau tanaman sedangkan mereka tidak berakal. Apakah harta benda atau mesin atau ilmu? Sedangkan semua itu adalah rekaan manusia sendiri yang tidak mampu berbuat apa-apa.

 

Kalau begitu, manusia perlukan satu zat yang kemampuannya di luar itu semua. Manusia perlukan satu super power yang lebih dari segala-gala yang ada di alam ini.

 

Manusia perlukan Tuhan, Zat yang Maha Agung yang kuasa-Nya tiada mula dan tidak terbatas. Apabila Dia menghendaki sesuatu, hanya dengan berkata jadi maka jadilah. Dia Zat yang Maha Menyelesaikan segala masalah manusia. Dia doktor yang Maha Pakar dan menyembuhkan penyakit jiwa manusia. Dia tidak bertempat dan tidak tertakluk kepada ruang dan masa. Dia boleh dihubungi, boleh menghubungi dan boleh menyelesaikan masalah seluruh manusia dan makhluk-Nya serentak dalam satu masa di mana sahaja.

 

Malangnya, ramai manusia tidak percaya Tuhan, tidak kenal Tuhan dan tidak faham peranan Tuhan. Lebih-lebih lagi tidak cinta dan tidak takut Tuhan. Inilah yang menyebabkan jiwa jadi kosong. Inilah dia asas bagi penyakit jiwa. Kalau kita tidak tahu bahawa Tuhan ada peranan dalam kehidupan ertinya kita tidak ada pelindung, dan kita tidak ada pembela.

Apabila ada masalah kita tidak ada tempat rujuk dan tempat mengadu. Kita tidak ada tempat bergantung. Kalau kekosongan jiwa ini berlaku satu hari, tidak mengapa. Tetapi kalau berlaku bertahun-tahun, ia jadi barah. Akhirnya barah ini pecah dan lahirlah penyakit jiwa. Manusia lemah dan tidak ada kuasa. Oleh itu manusia perlu bersandar kepada sesuatu kuasa yang gagah, perkasa dan mutlak iaitu Tuhan. Barulah hati manusia akan menjadi teguh dan kuat.

 

Manusia perlu kepada Tuhan. Manusia perlu rasa bertuhan. Tuhan adalah segala-galanya. Kekuatan jiwa manusia

adalah setakat mana dia rasa bertuhan. Kurang rasa bertuhannya, maka kuranglah kekuatan jiwanya. Kuat rasa bertuhannya maka kuatlah jiwanya. Kalau seseorang itu tidak langsung mempunyai hubungan dengan Tuhan, percaya pun tidak, kenal pun tidak, maka jiwanya akan menjadi lemah dan rosak, dan akan dihinggapi penyakit. Akan timbullah rasa kosong, risau, rimas dan runsing. Akan hilang ketenangan jiwa.

 

Allah ada berfirman:

Maksudnya: “Ketahuilah bahawa dengan mengingati Allah itu, hati akan menjadi tenang.” (Ar-Ra’du: 28)